ELEGANNEWS JAMBI
Empat puluh sembilan tahun lalu, kawasan yang kini berdiri megah sebagai kompleks Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar Muara Bungo masih berupa hamparan hutan belantara. Belum ada bangunan pendidikan, belum ada aktivitas belajar mengajar, bahkan belum banyak orang yang menjamah kawasan tersebut.
Kini, di tempat yang sama, berdiri puluhan unit pendidikan, dua perguruan tinggi, berbagai unit usaha, serta ribuan santri yang datang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Transformasi itulah yang menjadi refleksi utama dalam pidato Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar Indonesia, Ustadz H.M. Hafizh El Yusufi, pada puncak peringatan Milad ke-49 Diniyyah Al-Azhar, Rabu (5/8/2026).
“Siapa yang menyangka 49 tahun yang lalu tempat ini masih dipenuhi hutan belantara, tidak ada yang menempati, bahkan belum ada orang yang menjamahnya. Hari ini menjadi sebuah oase di tengah padang pasir, menjadi kota ilmu dan pusat pendidikan untuk menyiapkan generasi pemimpin masa depan,” ujar Hafizh di hadapan ribuan jamaah.
Menurutnya, perjalanan panjang Diniyyah Al-Azhar tidak lahir secara instan. Fondasi lembaga tersebut telah dipersiapkan jauh sebelum berdiri pada 5 Agustus 1977, ketika pendirinya, Umi Dra. Hj. Rosmaini, M.S., M.Pd.I., menempuh pendidikan selama 12 tahun di Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Di lembaga yang didirikan tokoh pendidikan Islam perempuan Syekhah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah itu, Rosmaini menempuh pendidikan mulai dari DMP, Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah hingga Dirasat Islamiyah. Ia juga mengabdi sebagai guru sebelum kembali ke Jambi membawa bekal ilmu dan pengalaman pendidikan.
“Dengan bekal ilmu yang diperoleh langsung dari Syekhah Rahmah El Yunusiyah dan Hj. Isnaniah Saleh itulah kemudian beliau mendirikan Diniyyah Al-Azhar,” kata Hafizh.
Berawal dari Satu Murid dan Dua Guru
Hafizh mengingatkan, perjalanan Diniyyah Al-Azhar dimulai dengan kondisi yang sangat sederhana.
Saat pertama berdiri di Tanjung Gedang pada 5 Agustus 1977, sekolah itu hanya memiliki satu murid dan dua guru. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1982, kegiatan pendidikan dipindahkan ke kawasan Rimbo Tengah yang hingga kini menjadi pusat pengembangan Diniyyah Al-Azhar.
Perjalanan dari satu murid menjadi ribuan peserta didik, menurut Hafizh, merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Namun, rasa syukur itu tidak boleh membuat lembaga berhenti berbenah.
“Perjuangan ini belum selesai. Masih banyak tugas besar yang harus kita tuntaskan. Semangat usia 49 tahun harus menjadi bahan bakar untuk mencapai cita-cita yang telah dirancang sejak 10 hingga 20 tahun lalu,” ujarnya.
Berkembang Menjadi 22 Unit Pendidikan
Dalam pidatonya, Hafizh memaparkan perkembangan Diniyyah Al-Azhar selama hampir lima dekade terakhir.
Jika pada 2010 yayasan baru mengelola 12 unit sekolah, kini jumlah tersebut meningkat menjadi 22 unit pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA dan madrasah aliyah.
Perkembangan terbaru adalah berdirinya SMA IT Diniyyah Al-Azhar Muara Bungo, yang mulai beroperasi pada tahun ajaran ini.
Selain itu, yayasan kini juga mengelola dua perguruan tinggi, yakni STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi. Keduanya tengah dipersiapkan untuk bergabung bersama satu perguruan tinggi lainnya menjadi sebuah universitas Islam.
“Kami berharap sebelum memasuki usia 50 tahun, cita-cita menghadirkan universitas Islam ini dapat diwujudkan,” kata Hafizh yang disambut tepuk tangan hadirin.
Tidak hanya di bidang pendidikan, Yayasan Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar juga mengembangkan 14 unit usaha sebagai bagian dari penguatan kemandirian lembaga.
Saat ini, jaringan pendidikan Diniyyah Al-Azhar telah tersebar di lima kabupaten/kota, baik di Provinsi Jambi maupun luar Jambi.
Menatap Lima Puluh Tahun
Bagi Hafizh, Milad ke-49 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia lembaga.
Momentum ini menjadi titik awal menuju usia emas Diniyyah Al-Azhar yang akan diperingati tahun depan.
Karena itu, seluruh keluarga besar yayasan diajak menjadikan usia ke-49 sebagai energi baru untuk menyelesaikan berbagai target strategis yang telah dirancang sejak bertahun-tahun lalu.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Masih banyak tugas besar yang harus kita tuntaskan. Semangat 49 tahun ini harus menjadi bahan bakar bagi kita semua untuk melangkah menuju cita-cita yang telah kita tetapkan,” ujarnya.
Hafizh meyakini, perjalanan panjang Diniyyah Al-Azhar selama hampir lima dekade menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Lembaga yang tumbuh dari satu murid, dua guru, dan kawasan hutan belantara itu kini menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang terus memperluas kiprahnya.
Namun, menurutnya, pencapaian tersebut bukanlah garis akhir.
“Yang telah kita capai hari ini harus menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi pada masa yang akan datang,” katanya. []













