ELEGANNEWS YOGYAKARTA
Siang itu, Avifah Vee, Editor Diva Press, Jogja ke ruangan Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp. Perio., Subsp.RPID (K), FISID, di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM. Dengan bersama temannya susah payah membawa 200 eksemplar buku. Mereka buru-buru karena kesempatan bertemu Guru Besar FKG UGM itu tidak lama dan akan kembali masuk ke kelas untuk mengajar pada mahasiswa Minggu,( 12/04/2026 ).
Agenda pertemuan itu tidak lain adalah untuk tanda tangan buku baru Prof. Syaify berjudul “The Miracle of Saliva (Keajaiban Air Liur): Kajian Ilmiah tentang Peran Air Liur dalam Kesehatan Oral dan Sistemik,” yang diterbitkan oleh Diva Press. Sesuai dengan janjinya, bagi pembeli 200 buku pertama, akan diberikan tanda tangan dan sekaligus quote khusus. Itulah kenapa, Avifah Vee bersama dengan temannya membawa buku itu ke ruangan Prof. Syaify, karena pemesan buku via online sudah banyak yang menanyakan kapan bukunya bisa diterima.
Bagi Prof. Syaify buku yang dibuatnya kali itu memiliki nilai spesial tersendiri dibandingkan buku-buku lain yang pernah ditulis. Karena itu merupakan buku pertamanya yang diluncurkan setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar FKG UGM. Selain itu, ide dari pembuatan buku juga tidak terlepas dari kisah masa kecilnya di Jember. Di kampungnya, setiap kali ada anak yang jatuh dan terluka, kebiasaan orang tua pasti akan mengambil air liurnya dengan jari lalu dioleskan ke luka anaknya. Seolah bagi masyarakat di kampung, air liur itu sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan luka. Meski tampak jorok dan menjijikkan, menariknya luka itu pun cepat berhenti berdarah begitu diolesi air liur.
Begitu Prof. Syaify menginjak dewasa dan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UGM, akhirnya penasaran dan ingin membuktikan secara ilmiah mengenai kebiasaan orang di kampungnya semasa kecil.
Apakah benar, air liur bisa dijadikan obat luka? Itu sekadar mitos atau fakta? Lalu, apa sebenarnya kandungan yang terdapat pada air liur?
Ia pun melakukan kajian untuk mencari tahu dan melakukan pembuktian secara ilmiah. Hingga akhirnya, menemukan sebuah fakta, ternyata secara ilmiah kandungan air liur memang bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka. Rahasianya terletak pada histatin, sejenis protein yang bertindak seperti antibiotik alami. Histatin membantu membunuh bakteri penyebab infeksi sekaligus berperan dalam proses regenerasi jaringan. Mulai dari luka kronis akibat diabetes, trauma, hingga luka bakar.
Jadi bukan mitos air liur bisa digunakan untuk mengobati luka.
Saat menemukan fakta itu, Prof. Syaify jadi semakin tertarik untuk melakukan berbagai pembuktian tentang apa yang dipercayai masyarakat kuno, tentang air liur. Mulai tentang kebiasaan menggunakan air liur untuk mengobati jerawat, agar kulit muka halus, sebagai obat untuk belekan, hingga kepercayaan meludah di sumur disebut menyebabkan sumbing, dan bayi yang ngeces dikatakan akibat ibunya ngidam saat hamil tidak dikabulkan. Berdasarkan kajiannya secara ilmiah, memang tidak semua bisa dibuktikan secara ilmiah, atau sekadar mitos. Namun sebagian secara ilmiah memang terbukti relevan.













