SPMB SMAN 1 Kota Bekasi: Nilai Berubah Drastis di Detik Terakhir, Orangtua Murid Tuntut Kejelasan dan Transparansi

ELEGANNEWS KOTA BEKASI

Suasana tegang dan penuh tanya menyelimuti SMAN 1 Kota Bekasi hari ini. Puluhan orangtua calon peserta didik baru telah menunggu lebih dari tiga jam di lingkungan sekolah, menuntut penjelasan atas perubahan nilai dan peringkat yang terjadi secara tiba-tiba dan mencurigakan pada sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya pada jalur kompetensi non akademik Kamis,( 4/06/2026 )

Sejumlah orangtua menyampaikan keluhan yang senada: nilai yang sebelumnya sudah tertera jelas dan posisi anak mereka sudah aman dalam kuota penerimaan, berubah drastis dalam hitungan jam di detik-detik akhir masa verifikasi, bahkan setelah seharian tidak ada pergerakan data sama sekali.

Salah satu orangtua yang menyampaikan keluhannya secara gamblang adalah Ade Kumala Sari (43), ibu dari calon peserta didik asal SMP Negeri 2 Babelan. Putranya merupakan Ketua OSIS periode 2024–2025 dan mendaftar melalui jalur prestasi non akademik bidang kepemimpinan.

Menurut Ade, pagi ini nilai anaknya tercatat sebesar 308,08 poin. Namun, secara tiba-tiba angka itu berubah menjadi 317,08 poin. Perubahan ini membuat posisinya tergeser hingga keluar dari kuota penerimaan. Hal yang membuatnya semakin curang adalah kasus yang menimpa teman satu sekolah anaknya, Fadli Surya Diningrat.

“Teman satu sekolah anak saya, sama-sama dari SMPN 2 Babelan. Kemarin Rabu namanya sudah tidak ada di klasemen, tapi pagi ini tiba-tiba masuk lagi di urutan ke-74. Padahal anak saya adalah lulusan terbaik pertama di sekolahnya, sedangkan teman itu bahkan tidak masuk 10 besar. Ini yang kami pertanyakan,” ungkap Ade dengan nada kecewa.

Ia mempertanyakan alasan pemotongan nilai yang mencapai 51 poin bagi anaknya. Pihak sekolah menyebutkan alasannya adalah pemeliharaan sistem atau maintenance. Namun, Ade menilai alasan itu tidak masuk akal.

“Kalau alasannya pemeliharaan sistem, seharusnya perubahan terjadi secara keseluruhan. Tapi nyatanya, masalah ini hanya terjadi di jalur kompetensi non akademik saja. Kami minta bukti hitam putih adanya perbaikan sistem ini, tapi sampai sekarang hanya penjelasan lisan saja,” tegasnya.

Poin krusial lainnya yang disorot orangtua adalah garis waktu verifikasi yang seolah diubah sepihak. Berdasarkan jadwal resmi, pendaftaran berlangsung 25–29 Mei, sedangkan verifikasi dan validasi seharusnya ditutup pada 2 Juni pukul 23.59 WIB. Ade memantau data anaknya dengan ketat, setiap setengah jam sekali. Hingga Rabu sore, jam setengah 6 sore, data masih sama: posisi 73 dan aman.

“Tapi anehnya, tanggal 3 Juni setelah Maghrib, sistem kembali melakukan verifikasi. Padahal tanggal 3 dan 4 Juni seharusnya sudah masuk jadwal uji kompetensi dan masa sanggah, bukan lagi verifikasi berkas. Kalau sistem provinsi masih terbuka, seharusnya sekolah punya kebijakan tegas, berkas yang masuk sampai batas waktu itu saja yang diproses,” jelasnya.

Ade sangat khawatir kondisi ini berdampak buruk bagi mental dan karakter anak. “Jangan sampai kejadian ini merusak karakter, psikis, dan mental anak. Bahaya sekali. Biarkan anak bersaing secara sehat. Kalau memang sistem belum siap, kenapa harus diluncurkan? Harusnya ada uji coba dulu, dan kenapa perbaikan sistem dilakukan di detik-detik terakhir, bukan di awal?” ujarnya prihatin.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Ivan (35), orangtua siswa atlet Taekwondo dengan beragam prestasi tingkat daerah hingga nasional, yang sertifikatnya sudah dilegalisir lengkap hingga tingkat pusat. Menurutnya, posisi anaknya sempat aman di urutan ke-54 pada pukul 01.00 dini hari tadi. Namun, saat dicek kembali pukul 04.00 pagi, nilainya berubah drastis dari 375 poin menjadi 352 poin, sehingga namanya tersingkir dari daftar kuota.

“Nilai itu kan perhitungan baku antara nilai rapor dan poin sertifikat. Kami sudah berjuang mengurus berkas sampai repot, tapi rasanya semua jadi seperti dimainkan. Verifikasi sudah selesai, posisi sudah aman, tiba-tiba berubah di pagi buta. Kenapa bisa begitu?” tanya Ivan kesal.

Ia juga membandingkan kondisi di SMAN 1 dengan sekolah lain. “Saya tanya ke orangtua yang mendaftar di SMAN 2, datanya aman-aman saja. Masalah ini ternyata hanya terjadi di SMAN 1 Kota Bekasi saja. Pihak humas sekolah hanya beralasan itu bukan wewenang mereka dan mencuci tangan seolah tidak ada tanggung jawab. Padahal kami sudah menunggu dari jam 8 pagi, sekarang sudah lewat jam 1 siang,” ungkapnya.

Para orangtua yang tergabung dalam kelompok komunikasi beranggotakan 17 orang ini menuntut pertemuan langsung. Mereka meminta kehadiran Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Bekasi serta pimpinan dari Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan setempat untuk mempertanggungjawabkan apa yang sebenarnya terjadi.

Mengingat jadwal rapat guru di sekolah hari ini, laporan ke KCD tanggal 5 Juni, dan pengumuman hasil akhir pada 8 Juni mendatang, para orangtua menegaskan: tidak ada jaminan nama anak-anak mereka akan kembali ke posisi semula jika pulang hari ini tanpa kepastian resmi.

“Siapa yang bisa menjamin kalau pemangku jabatan saja tidak ada di sini? Kami ingin kejelasan, agar tidak ada kecurangan dan agar anak-anak kami mendapatkan haknya bersaing secara jujur dan transparan,” pungkas mereka serentak.

Hingga berita ini diturunkan, para orangtua masih bertahan di lokasi menunggu kepastian jawaban dari pihak sekolah maupun dinas pendidikan terkait. ( Edo )