Prof. Fasli Jalal: Wisuda Bukan Akhir, Awal Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

ELEGANNEWS JAMBI 

Ijazah bukan tanda berhentinya proses belajar, melainkan penanda dimulainya perjalanan baru yang menuntut kemampuan beradaptasi, kemauan terus belajar, dan keberanian menghadapi dunia nyata. Pesan itu disampaikan Prof. Dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D. dalam orasi ilmiah pada Wisuda STKIP ke-XIV dan STIT ke-X Al Azhar Diniyyah Jambi, Sabtu (15/8/2026).

Ia mengajak para wisudawan merayakan keberhasilan ini, namun segera bersiap menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. “Di kampus masih ada kesempatan memperbaiki kesalahan, namun di dunia nyata setiap keputusan membawa konsekuensi nyata. Karena itu, susunlah arah perjalanan dan tujuan hidup Anda dengan jelas,” ujarnya.

Prof. Fasli mengingatkan ilmu yang relevan hari ini bisa menjadi usang dalam waktu singkat seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI). “Ilmu yang dipelajari kini bisa tertinggal beberapa tahun ke depan. Maka kemampuan belajar kembali adalah bekal paling penting. Jadilah pembelajar sepanjang hayat,” tegasnya.

Mengenai bonus demografi Indonesia hingga tahun 2045, ia mengingatkan jumlah penduduk usia produktif baru menjadi kekuatan jika dibarengi pendidikan berkualitas, kesehatan prima, etos kerja tinggi, serta iman dan takwa yang kokoh. Jika tidak disiapkan dengan baik, peluang ini justru bisa menjadi beban.

Khusus kepada tiga bidang keilmuan unggulan: bagi lulusan PG PAUD, pendidikan anak usia dini adalah fondasi utama pembentukan manusia seutuhnya; bagi lulusan Bahasa Inggris, kuasai bahasa sebagai pintu dunia namun perkuat sisi kemanusiaan yang tak tergantikan teknologi; sedangkan lulusan Pendidikan Agama Islam memegang peran vital membentuk karakter, iman, dan akhlak mulia.

Di akhir pesannya, ia mengajak seluruh wisudawan segera menentukan arah pengabdian, baik sebagai tenaga pendidik, pencipta lapangan kerja, maupun pelaku sosial. “Hari ini kalian beralih dari mahasiswa menjadi lulusan. Jadilah pendidik, jadilah pembelajar sepanjang hayat, dan jadilah pemimpin masa depan yang membangun peradaban lebih baik,” pungkasnya.

Wisuda ini akhirnya bermakna bukan sekadar seremoni, melainkan jeda singkat sebelum melangkah membawa ilmu yang dimiliki, terus memperbarui wawasan, dan tetap menjaga nilai kemanusiaan di tengah arus perubahan zaman.