ELEGANNEWS KOTA BEKASI
Menanggapi gelombang keluhan dan kekhawatiran para orangtua calon peserta didik baru terkait perubahan nilai dan peringkat yang terjadi secara tiba-tiba pada sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang kini disebut Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), pihak SMAN 1 Kota Bekasi akhirnya memberikan penjelasan resmi. Melalui keterangan Humas sekolah, Sukiman, pihaknya menegaskan bahwa perubahan data tersebut murni diakibatkan oleh pemeliharaan sistem yang dilakukan oleh panitia tingkat Provinsi Jawa Barat, dan sekolah sama sekali tidak memiliki wewenang untuk mengubah data tersebut.
Sukiman Humas SMAN 1 Bekasi menyampaikan pemahaman pihak sekolah terhadap kekhawatiran besar yang dirasakan para orangtua murid, namun ia meminta agar hal ini tidak disalahartikan sebagai kebijakan atau rekayasa dari pihak satuan pendidikan.
“Kami memahami betul perasaan orang tua dengan adanya perubahan yang terjadi seperti ini. Namun perlu kami sampaikan, hal ini murni berjalan secara sistem (by system). Sistem ini dikembangkan dan dikelola sepenuhnya oleh panitia Provinsi Jawa Barat. Posisi kami di sekolah sama saja sebagai pengguna, sama seperti para pendaftar. Akun yang kami miliki hanya sebatas untuk memverifikasi berkas saja,” tegas Sukiman saat memberikan keterangan pers, Kamis (4/6/2026).
Menurut Sukiman, perubahan skor yang terlihat pada pagi hari tanggal 4 Juni 2026 sempat dikonfirmasi langsung ke pihak provinsi. Jawaban yang diterima adalah bahwa sistem sedang dalam tahap pemeliharaan atau maintenance, yang berdampak pada penyesuaian data sementara. Pihak sekolah berharap data akan segera pulih kembali seperti kondisi terakhir pada tanggal 3 Juni, tepat di masa akhir periode verifikasi.
“Kami sudah konfirmasi ke provinsi dan jawabannya sistem sedang dalam pemeliharaan. Kami yakin pusat data di provinsi sudah memegang pangkalan data yang benar. Harapan kami sistem segera pulih dan kembali ke kondisi tanggal 3 Juni kemarin. Atas nama SMAN 1 Bekasi, kami juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan batasan wewenang sekolah, “Penekanannya adalah ini bukan faktor dari SMAN 1 Bekasi. Anggapan bahwa hal ini dilakukan oleh panitia di sekolah sama sekali tidak benar. Kami tidak punya akses masuk ke inti sistem untuk mengubah nilai.”
Terkait garis waktu verifikasi yang dipermasalahkan sejumlah orangtua yang merasa jadwal diperpanjang, Sukiman menjelaskan bahwa batas akhir resmi memang ditetapkan pada 2 Juni. Namun, atas rekomendasi provinsi, verifikasi masih berlanjut hingga tanggal 3 Juni karena masih ada sejumlah data yang perlu dilengkapi. Di SMAN 1 Bekasi sendiri, proses verifikasi baru benar-benar tuntas pada pukul 21.00 lebih pada tanggal 3 Juni.
“Memang jadwal resmi berakhir 2 Juni, tapi atas arahan provinsi karena masih ada data yang harus diverifikasi kembali, maka di tanggal 3 Juni kami masih melakukan proses. Dan terakhir kami selesai memverifikasi di tanggal 3 Juni pukul 21 lewat, tidak ada lagi setelah itu,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Sukiman juga membeberkan catatan jumlah pendaftar di SMAN 1 Bekasi yang tercatat sebagai salah satu sekolah paling diminati di Jawa Barat. Dari data yang ada, tercatat sebanyak 2.028 pendaftar yang memperebutkan kuota terbatas sebanyak 384 kursi siswa baru.
Peminat terbanyak berada pada jalur prestasi nilai rapor, yang mencapai lebih dari 1.500 pendaftar terverifikasi. Sementara itu, untuk jalur potensi akademik yang memiliki persyaratan khusus termasuk tes IQ, jumlah pendaftar tercatat 55 orang, namun yang dinyatakan memenuhi syarat dan terverifikasi hanya tinggal 15 orang saja.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah terus berkoordinasi dengan provinsi menunggu pemulihan sistem agar data kembali akurat dan ketidakpastian yang membuat resah para orangtua segera terselesaikan. ( Edo )













