ELEGANNEWS KOTA BEKASI
Syafrudin, SE, mantan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, menyambangi Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi pada Senin (26/10/2026). Kedatangannya yang terkesan mendadak itu berlanjut dengan obrolan santai bersama awak media, membahas berbagai persoalan, mulai dari kebijakan Pemerintah Kota Bekasi hingga kondisi sosial masyarakat.
Dalam perbincangan tersebut, Syafrudin menyampaikan harapannya agar organisasi keagamaan di Kota Bekasi semakin memperkuat program sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Menurutnya, nilai kepedulian sosial perlu terus ditumbuhkan melalui tindakan nyata, seperti saling membantu, menolong sesama, serta memudahkan urusan orang lain tanpa membedakan latar belakang.
“Kalau kegiatan sosial masyarakat kita saling membantu, tolong-menolong siapapun, mudahkan urusan orang, maka Tuhan akan memudahkanmu,” ujar Syafrudin.
Ia juga menilai nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini perlu mendapat perhatian lebih. Syafrudin mencontohkan gesekan antarwarga yang terkadang dipicu persoalan sederhana, seperti penggunaan lahan parkir atau kepentingan ekonomi di lingkungan tempat tinggal.
“Ini di luar topik agama gitu, contoh tetangga atau apa gitu yang ribut di wilayah, masalah lahan parkir atau segala macam gitu. kan kadang mau ngalah sedikit aja itu sulit gitu Karena itu sudah kaitannya dengan ekonomi,” imbuhnya.
Menurut Syafrudin, persoalan semacam itu bukan hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Gesekan di lapangan dapat muncul ketika kepentingan masing-masing pihak berbenturan dan tidak mudah menemukan titik temu.
“Kan banyak tuh gesekan-gesekan di lapangan.”
Karena itu, ia berharap para pemangku kepentingan di tingkat lingkungan mengambil peran aktif untuk menjaga kondusivitas wilayah. Persoalan yang muncul di tengah masyarakat, menurutnya, perlu segera ditangani oleh pihak yang memiliki tanggung jawab langsung agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Yang artinya mana kala gitu yang memegang kekuasaan terhadap wilayah itu yang menyelesaikan, misalnya wilayah itu ya RW dulu lah, jangan enggak mau tahu.” tambahnya.
Syafrudin dan Langkah Politik selanjutnya
Mengenai dinamika politik, Syafrudin belum menyatakan dirinya terafiliasi dengan partai politik atau kekuatan politik tertentu. Ia lebih menekankan pentingnya kontribusi sosial dan peran organisasi keagamaan dalam menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata.
Namun, kunjungan Syafrudin ke Gedung MUI Kota Bekasi ternyata tak berhenti pada diskusi santai bersama awak media. Selepas berbincang, ia melangkah menuju lantai dua untuk menemui Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bekasi, H. Jaja Jaelani.
Di sinilah rasa penasaran mulai muncul. Awak media yang semula asyik berdiskusi mendadak memiliki bahan pertanyaan baru. Ada apa gerangan hingga Syafrudin melanjutkan langkah ke lantai dua? Apakah sekadar silaturahmi, bertukar pandangan tentang kondisi Kota Bekasi, atau ada hal lain yang menarik untuk diperbincangkan?
Pertemuan khusus di salah satu ruangan itu pun menjadi perhatian tersendiri. Bak paparazi yang jeli menangkap momen, awak media tentu tak ingin melewatkan perkembangan menarik di depan mata. Namun, rasa penasaran tetap harus berjalan beriringan dengan etika jurnalistik. Hingga pertemuan tersebut berlangsung, belum ada keterangan terperinci mengenai pokok pembicaraan Syafrudin dan H. Jaja Jaelani, termasuk apakah ada agenda khusus yang turut dibahas bersama DMI maupun MUI Kota Bekasi. ( Hery Sulistyo )













