ELEGANNEWS JAMBI
Menumbuhkan budaya membaca di tengah derasnya arus informasi digital menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Karena itu, Diniyyah Al-Azhar Jambi menggelar Bedah Buku Negeri 5 Menara bersama penulisnya, Ahmad Fuadi, sebagai bagian dari upaya merawat tradisi literasi sekaligus mendorong generasi muda terus berinovasi.
Kegiatan bertajuk “Menjaga Tradisi, Terus Berinovasi” tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 08.00–11.00 WIB, di lingkungan Diniyyah Al-Azhar Jambi.
Ahmad Fuadi dikenal melalui karya Negeri 5 Menara, novel yang mengangkat kisah pendidikan, persahabatan, mimpi, dan perjuangan para santri. Kehadiran penulis secara langsung dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga menggali pengalaman dan proses kreatif di balik lahirnya sebuah karya.
Dalam informasi yang disampaikan Diniyyah Al-Azhar Jambi, kegiatan itu merupakan kesempatan untuk “menggali inspirasi, memperkaya wawasan, dan menikmati pengalaman literasi bersama penulisnya langsung.”
Tema “Menjaga Tradisi, Terus Berinovasi” menjadi relevan di tengah perubahan cara generasi muda memperoleh dan mengonsumsi informasi. Buku dan aktivitas membaca tetap memiliki ruang penting, sementara teknologi membuka kemungkinan baru dalam mengembangkan budaya literasi.
Bedah buku tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar Diniyyah Al-Azhar Jambi dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta didik memiliki kegemaran membaca, kemampuan berpikir, serta keberanian melahirkan gagasan.
Membaca untuk Menemukan Inspirasi
Pilihan Negeri 5 Menara sebagai bahan bedah buku juga menarik. Karya tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita tentang kehidupan di lingkungan pesantren, tetapi memperlihatkan bagaimana pendidikan, persahabatan, kedisiplinan, dan keyakinan terhadap cita-cita dapat membentuk perjalanan seseorang.
Melalui pertemuan dengan Ahmad Fuadi, peserta memiliki kesempatan untuk melihat sebuah buku dari dua sisi sekaligus: sebagai karya yang dibaca dan sebagai hasil dari proses panjang seorang penulis dalam mengolah pengalaman menjadi cerita.
Bagi lingkungan pendidikan, perjumpaan semacam ini penting. Buku tidak lagi berhenti sebagai objek yang dibaca untuk menyelesaikan tugas, melainkan menjadi pintu masuk untuk berdialog dengan gagasan dan pengalaman orang lain.
Diniyyah Al-Azhar Jambi mengajak masyarakat untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Semangat yang dibangun bukan hanya membaca satu buku, melainkan menumbuhkan kebiasaan membaca dan mencintai literasi sebagai bagian dari kehidupan.
Kegiatan ini juga melibatkan Ngaji Literasi serta sejumlah pihak yang tercantum sebagai kolaborator, antara lain Gramedia, Alex Media Komputindo, dan Quanta.
Pada akhirnya, pesan yang hendak dibawa dari kegiatan tersebut sederhana: tradisi membaca perlu dirawat, tetapi cara menghidupkannya harus terus diperbarui. Sebab, di tengah zaman yang bergerak cepat, kemampuan membaca bukan hanya soal memahami kata-kata di halaman buku, melainkan juga belajar memahami kehidupan.
Melalui pertemuan dengan Ahmad Fuadi, Diniyyah Al-Azhar Jambi berharap semangat membaca, mencintai literasi, dan terus berinovasi dapat tumbuh bersama di kalangan generasi muda.













